KELUARGA
Kania memandangi Ibunya yang tengah berbaring lemah di atas ranjang kecil berwarna putih. Gadis berusia delapan belas tahun itu menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menangis. Sementara itu, Ayahnya, yang juga sedang berada dalam ruangan yang sama, hanya diam membisu.
“Ibu udah tahu?” tanya Kania dengan suara seraknya. Mata merahnya memandangi Ayahnya kecewa. Bukan, kecewa itu bukan ditujukan pada ayahnya. Kecewa itu lebih ditujukan pada takdir yang begitu kejam padanya. Ibunya masih sakit dan sekarang masalah lain sudah datang menghampiri. Jujur saja, Kania lelah.
Mata merah Kania menangkap gelengan pelan Ayahnya. Telinganya juga mendengar Ayahnya bergumam, “Belum, dan jangan sampai Ibu tahu.”
Kania mengangguk setuju. Ayahnya benar, Ibunya belum boleh tahu soal hal ini. Ibunya masih suka sesak pada saat-saat tertentu karena sakit jantung. Jangan sampai Ibunya semakin drop karena kabar ini.
“Jadi, Ayah udah ada rencana?” tanya Kania pelan, berusaha tidak mengganggu tidur Ibunya. Sejujurnya, Kania yakin, Ayahnya akan segera mendapat pekerjaan baru. Ayahnya adalah lulusan S1 dari salah satu universitas ternama di Indonesia. Seharusnya, tidak akan sulit, ‘kan?
Ayahnya mengangguk pelan. “Ayah mau mencari pekerjaan nanti sore via online. Ayah juga udah ada rencana menghubungi teman-teman kuliah ayah dulu. Kania jangan panik dulu. Ayah pasti bisa dapat pekerjaan. Doain ayah, ya,”
Ayah mengusap-usap pelan kepala Kania. Kania mengangguk-angguk pelan. “Pasti, Yah. Pasti Kania doain,”
Gadis itu merenungi nasibnya sambil memandang kosong ke arah tembok. Masalah satu persatu datang bahkan saat masalah sebelumnya belum selesai. Jantungnya hampir lepas saat mendengar kabar jantung Ibunya bermasalah. Kini, saat mendengar Ayahnya yang di-PHK, rasa-rasanya Kania putus asa. Kania masih kuliah, belum bekerja. Satu-satunya pencari nafkah di keluarganya adalah sang Ayah. Lantas, bagaimana cara mereka bertahan hidup? Tapi, Kania masih berpikir positif. Pasti, kelak masalah-masalah ini akan teratasi. Ya, pasti.
Kania menghembuskan napas panjang. Tangannya ia gerakkan untuk mengacak-acak rambut ikalnya. Ia berdiri lalu beranjak dari ruangan dengan luas 110 meter persegi ini. “Kania mau nyari kopi dulu,”
***
Kania meneguk kopinya pelan. Matanya masih bengkak dan merah. Siapapun pasti akan tahu bahwa Kania terlalu banyak menangis, termasuk Bella, teman Kania.
“Jadi aku harus gimana, Bell?”
Bella memandangi sahabatnya itu dengan simpati penuh. Dia juga pernah mengalami hal yang kurang lebih mirip saat Ayahnya pensiun. Jadi, kurang lebih dia bisa memahami perasaan temannya itu.
“Ya… gak gimana-gimana. Menurutku, yang harus kamu lakukan sekarang hanya bantu dukung ayah kamu. Semangatin dia, jangan bebani. Kamu harus sadar bahwa ini gak cuman sulit bagi kamu. Tapi juga bagi ayah kamu. Beliau pasti sedih, kesal, kecewa, dan itu semua dia rasakan ke dirinya sendiri. Asal kamu tahu, itu… mengerikan,”
Kania semakin merasa bersalah meninggalkan ayahnya sendiri di kamar rumah sakit dengan ibunya. Tapi, dia takut menangis di depan ayahnya itu. Jadi, bukankah lebih baik dia menghindar?
“Iya…” balas Kania pelan.
Bella menggenggam erat tangan Kania. “Tenang, semuanya akan baik-baik aja. Percaya sama aku,”
Kania mengangguk pelan. Dia membaringkan kepalanya di atas meja. “Ayah pasti capek, tiap hari kerja buat aku sama Ibu. Aku pengen bantu, Bell. Tapi, aku tahu aku gak bisa apa-apa selain dukung dan doa. Kalau kamu, waktu itu gimana?”
Bella menopang dagunya sambil menjawab pertanyaan Kania, “Aku… juga sama kayak kamu. Aku cuman dukung dan doa, sambil dikit-dikit berhemat. Bagaimanapun juga, aku sadar bahwa aku belum bisa bantu selain itu. Jadi, aku cuman bisa melakukan itu.”
Kania mengangguk-angguk pelan tanda mengerti. Dia kembali membuka pembicaraan, “Aku gak bisa ngebayangin kalau Ibu tahu gimana.”
Mata Bella melotot kaget. Dia belum tahu kalau ternyata Ibu Kania belum tahu-menahu soal di-PHK-nya Ayah Kania. “Ibu kamu belum tahu?”
Kania mengangguk.
“Iya, Ayah bilang Ibu jangan sampai tahu. Dan, aku juga setuju soal itu. Ibu bisa makin drop kalau tahu soal ini. Kamu tahu, ‘kan, seberapa kritisnya keadaan Ibuku saat ini? Aku dan Ayah gak mau ambil resiko,”
Bella mengangguk-angguk tanda mengerti. “Benar juga, ya. Tapi kapan kamu mau ngasih tau Ibu kamu?”
Kania mengangkat bahunya pelan. “Yang jelas bukan sekarang,”
***
“Kania udah makan?” tanya Ayah dari seberang telepon. Ayah Kania masih berada di rumah sakit, sementara Kania berada di rumahnya.
Kania menjawab, “Belum, yah. Ini Kania mau goreng nasi. Kalau Ayah sendiri? Oh iya, Ibu gimana?”
“Ayah udah makan tadi beli bubur. Ibu juga udah bangun tadi, tapi sekarang tidur lagi. Oh iya, Ayah kayaknya tidur di rumah sakit. Kania gak papa sendiri?”
Kania mengangguk pelan walau tahu betul ayahnya tidak akan bisa melihatnya. Lantas menjawab, “Iya, gak papa. Ayah jagain Ibu aja. Kania gak papa kok sendiri.”
Setelah sambungan telepon terputus, Kania memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Kania adalah mahasiswa jurusan Teknik Informatika di salah satu universitas di kota Bandung. Kania selalu merasa beruntung memiliki keluarga yang lengkap, berkecukupan, dan mendukung semua cita-citanya. Tapi, sekarang, saat keadaan berbalik, Kania justru merasa tak siap menghadapinya sebab terlalu sering berada dalam zona nyaman.
Gadis itu menarik napas panjang. Iya, inilah saatnya. Inilah saatnya dia keluar dari zona nyaman. Hanya dukung dan doakan ayahnya, serta menahan diri. Tidak begitu sulit, ‘kan?
***
Besoknya, Kania kembali datang ke rumah sakit. Di depan pintu kamar Ibunya, Kania menemukan ayahnya tengah meminum kopi sambil memandang ke taman seberang paviliun Ibunya.
Kania menyapa ayahnya, “Yah, Kania datang.”
Ayahnya yang awalnya tak menyadari kehadiran Kania kini langsung memperbaiki posisi duduknya. “Bawa apa itu kamu?” tanyanya sambil memandangi tas kecil yang dibawa Kania.
“Oh, ini bubur dari Bu Kus. Tadi Bu Kus ngasih sambil titip salam buat Ayah dan Ibu,” ucap Kania pelan.
Ayahnya pun bergumam pelan, “Waalaikumsalam.”
Kania memandangi wajah ayahnya sebentar. Ayahnya terlihat begitu… kacau. Selama ini Kania selalu berpikir bahwa ayahnya adalah orang paling rapi dan teratur yang pernah ia kenal. Akan tetapi, sekarang wajahnya mulai ditumbuhi rambut-rambut kasar di bagian dagunya, terdapat kantung mata yang tebal, dan bahkan ayahnya terlihat belum berganti pakaian sejak kemarin pertemuan terakhir mereka. Sadar akan situasi canggung ini, Kania pun memulai pembicaraan, “Ayah sudah dapat info pekerjaan dari teman Ayah?”
Ayah Kania mengusap wajahnya pelan, tanda frustasi. “Belum, Nak. Hmm sepertinya memang akan sedikit susah karena usia ayah yang sudah sedikit tua dan lagi, ayah juga hanya lulusan S1.”
Ah, Kania lupa. Usia ayahnya sudah tidak muda lagi, pastinya akan lebih sulit mencari pekerjaan dibandingkan yang masih muda. Kania pun mengangguk. “Gak papa, pasti masih ada yang bisa nerima Ayah.”
Bukan tanpa alasan Kania menyemangati ayahnya. Sejak pembicaraannya kemarin dengan Bella, Kania pun berusaha untuk menunjukkan sisi terbaik pada kedua orang tuanya, agar ayah dan ibunya itu tidak perlu mengkhawatirkannya di saat situasi kritis seperti ini.
Pasangan ayah dan anaknya itu pun terdiam selama beberapa detik hingga akhirnya Kania pamit mengunjungi Ibunya. “Kania mau ketemu Ibu dulu,”
Saat melihat Ibunya sedang menonton televisi, Kania tersenyum tipis. Betapa rindunya ia akan suasana rumah. Meskipun Kania tergolong introvert dan jarang berada di luar kamar, tapi rasanya aneh saat ia hanya sendirian di rumah tanpa celotehan ibunya dan kekehan ayahnya.
“Ibu, gimana? Masih suka sesak gak?”
Ibunya tersenyum lebar saat melihat anak semata wayangnya mengunjungi kamar inapnya. “Kania, hahaha liat tuh di TV. Ibu lagi suka nonton ini,” balas Ibu Kania begitu antusias hingga tidak menjawab pertanyaan anaknya. “Kemarin Ibu nanya suster, sinetron apa yang lagi populer. Katanya ini seru. Eh, pas Ibu tonton beneran seru,”
Kania tersenyum lembut. Wajah antusias Ibunya begitu ia rindukan. Biasanya, wajah itu akan muncul saat Kania baru pulang kuliah atau saat Kania memberitahukan suatu hal penting. Jika ada kesempatan, Kania ingin lebih banyak melihat wajah itu.
Kania ikut menonton televisi bersama Ibunya. Lalu, dia kembali membuka pembicaraan, “Ibu, dokter tadi sudah visit, belum?”
Ibu Kania menggeleng pelan. “Kata suster, dokternya Ibu izin hari ini. Jadi mungkin Ibu gak ada jadwal visit hari ini,” kata Ibu Kania, lalu mengalihkan perhatiannya dari televisi ke wajah putrinya. Wajah Kania terlihat melotot kaget saat mendengarnya. Terlihat bahwa Kania hendak protes. Namun, Ibunya segera menambahkan, “Eh, Ibu sudah merasa lebih baik, kok. Ini liat nih, Ibu bahkan sejak tadi malam gak sesak sama sekali. Kayaknya Ibu sudah bisa pulang ke rumah beberapa hari lagi.”
Kania hanya diam mendengar perkataan Ibunya. Ia terlihat sedang berpikir untuk membalas ucapan Ibunya. Akan tetapi, sebelum ia sempat membalas, Ibunya pun segera menyela, “Ibu juga heran. Kenapa ayahmu itu sampai harus cuti segala. Padahal, ‘kan, biasanya juga Ibu bisa sendirian kalau kamu kuliah. Ibu bukan anak kecil lagi kok.”
Mendengar ucapan Ibunya membuat Kania menelan ludahnya gugup. Ia takut kalau Ibunya akan mengetahui masalah di-PHK-nya Ayah Kania dan akan drop lagi. Jadi, dia segera membalas, “Hahaha, Ibu memang bukan anak kecil, tapi kelakuannya mirip anak umur lima tahun tahu!” candanya.
Ibunya tertawa sambil mengacak-acak rambut anaknya. Kania hanya tertawa miris dalam hati, sekaligus berdoa semoga Ibunya tidak akan mengetahui hal ini. Iya, semoga saja.
Komentar
Posting Komentar