KELUARGA
Kania memandangi Ibunya yang tengah berbaring lemah di atas ranjang kecil berwarna putih. Gadis berusia delapan belas tahun itu menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menangis. Sementara itu, Ayahnya, yang juga sedang berada dalam ruangan yang sama, hanya diam membisu. “Ibu udah tahu?” tanya Kania dengan suara seraknya. Mata merahnya memandangi Ayahnya kecewa. Bukan, kecewa itu bukan ditujukan pada ayahnya. Kecewa itu lebih ditujukan pada takdir yang begitu kejam padanya. Ibunya masih sakit dan sekarang masalah lain sudah datang menghampiri. Jujur saja, Kania lelah. Mata merah Kania menangkap gelengan pelan Ayahnya. Telinganya juga mendengar Ayahnya bergumam, “Belum, dan jangan sampai Ibu tahu.” Kania mengangguk setuju. Ayahnya benar, Ibunya belum boleh tahu soal hal ini. Ibunya masih suka sesak pada saat-saat tertentu karena sakit jantung. Jangan sampai Ibunya semakin drop karena kabar ini. “Jadi, Ayah udah ada rencana?” tanya Kania pelan, berusaha tidak mengganggu tidur Ibunya. ...